Vania Florensia

Bits of me here and there.

Thursday, 19 October 2017

Meet My People: Giovanni Prymusa

I owe this person a lot for who I am now.

Gue kenal sama dia di tingkat 2 (atau 3 ya?), kayaknya sekitar akhir 2011 deh. I'm not sure, but I feel like I've known him for a long, long time until now. Awalnya semuanya tentu saja gara-gara Rera, but we started off as friends literally on our own (well, until she 'sabotaged' him from me :p). Long story short, she felt like she needed to save him from me or else we would fall into a weird relationship type, which funny enough, they ended up together for more than 2 years and left me being the most ultimate thirdwheeler. But my most favorite part was, with them, it never felt like me thirdwheeling them, but it was if we were 3 friends who completed each other (or, they completed me in their own way).

Forever thirdwheeling, even when they were not together anymore

The most random trip I've ever had in my life

How do I begin to tell you about this one? I owe him a lot on my life. A lot. I could definitely tell you this, if I never knew him in my entire life, I would be lost further than I am now. He helped me a lot on understanding myself and my life through his knowledge on things and life, and it honestly helped me so much throughout the years. He is one of the most logical person in my life, like literally, he would tell me blatantly if he thought I did something wrong, rationally. Meskipun kadang gondok dikit sih, tapi gue ga pernah keberatan, karena gue ngerti banget perspektif dia adalah secara rasional, meanwhile gue kalo ngambil keputusan pasti secara.. how do I put it ya? Ya relatif lah, bener atau salah, baik atau buruk, tergantung gimana gue ngeliat itu.
On the last major event I had last month, I perfectly knew I had to meet him to completely made peace with everything on my life lately. And it was true, like I spent 5 hours talking non-stop with him, and finally things really made sense. He will always be the person I need to talk to so I can finally make sense when things are happening around me, because he will give the rational perspective of it, balancing my overly emotional brain, which sometimes go irrational on things. Not that I'm not confident, tapi kadang gue butuh dia untuk mengkonfirmasi bahwa apa yang gue pikirin itu emang bener gitu adanya, and that is how much I trust him.
He never really sugarcoat things with me. Well, sometimes he tried to put it nicer than he should (cause it's me), but he would always tell the truth. And it is something I really need. Some of my friends, sometimes, blindly supported me cause they knew I wouldn't budge. Well, he did too, but he would always tell me what was the risk if I decided to proceed with my decision (and well, he was right on the last one). Mau gimana pun gue mencoba boong dari keadaan, most of the time, apa pun yang dia perkirakan pasti kejadian.
He put perspectives into my life that were beyond my comfort zone. Banyak hal-hal dalam hidup yang pasti ga akan pernah gue tau kalo gue ga temenan sama dia, karena itu jauh diluar circle gue. Mostly on societies. Kalo ga karena dia, mungkin gue ga akan pernah tau bahwa ada desa yang jaraknya cuma 15 menit dari jalan utama Lembang naik motor tapi penduduknya 80% buta huruf.

Akhirnya wisuda jiiiir setelah hampir semua orang dibikin deg-degan sama dia

Thankfully, we never hit it romantically. Wah ya Allah gue ga kebayang apa jadinya kalo gue pacaran sama ini orang. Pilihan bagaimana kita menjalani hidup, antara gue dan dia, lumayan jauh berbeda. Asli, gue bisa ngobrol sama dia berjam-jam tentang life choices, tapi gue tau we would not take the same road of life, ever. It was fun talking about the possibility of life, but it was just it. If we were faced on deciding some matter things in life, gue yakin, pasti amat sangat jauh berbeda.
Ga keitung udah berapa ratus jam yang gue habiskan ngobrolin sama dia, dari kerjaan, hidup, orang-orang, MBTI, cognitive function, dah entah apapun itu. Dan udah ga keitung juga berapa banyak orang yang lalu lalang di antara pertemanan kita berdua, karena dia selalu menyeret gue hampir kemanapun, dan gue selalu ingin semua orang yang ada di hidup gue buat kenal sama dia. Entah berapa puluh kali kita ngerandom kemanapun, sesimpel ngangkat telpon dan ngajak makan, lalu end up sampe jam 2 pagi di kedai kopi terdekat entah ngobrolin apa, balancing my F and his T.

Belom tidur semaleman

On that fateful day that led me meeting another two people that got straight into my top 5

But above all that, gue tau, sampe kapanpun, mau kita ga ketemu sebulan, dua bulan, enam bulan, setaun, it is gonna be as if nothing ever change. Gue bisa telpon dia jam 12 malem ngomongin kenapa ada orang anehnya kayak apa, atau gue bisa nelpon dia jam 6 sore ngasih tau besoknya mau ke Bandung dan minta dijemput di stasiun. As simple as that. I once told him that, if the girls would be my bridesmaids on my wedding way, he would be the brideslave :"D

If something major happens in my life, I guarantee he would hear it from me non-stop in the first 3 days, and it will forever be like that.
Tuesday, 17 October 2017

Weekly Journal #1: Everyone Has Their Own Moment

Hi!
I just made a big change on how this blog looks, hopefully bisa menambah semangat  untuk kembali ngeblog secara konsisten, mengingat rasanya hanya ini sekarang pelarian gue dari entah apa drama drama kehidupan ini.

I'd really like to start reflecting on what I got and what I realised every week, so I could look back on it someday when I felt lost, and figured that I have known it all along, I just needed to be reminded once in a blue moon.
So, this week's findings?
Everyone has their own time, their own pace, their own moment.
Di saat-saat seperti ini, jujur aja, kadang hidup kerasa agak gimana gitu, ketika lo ngeliat temen-temen lo udah settle kerjaan, mulai nyebar-nyebar undangan nikah (dan seragam brisdesmaid!), udah punya skill-skill tertentu yang mengagumkan, rasanya udah tau hidupnya mau dibawa kemana, ya udah terorganisir aja gitu. Sementara gue, rasanya masih disini-sini aja, baru selesai sekolah, tapi bahkan gatau sebenernya gue bisa mengaplikasikan ilmu yang gue dapet apa ngga. Added skill? Kok rasanya nol besar... Pasangan? Ya Allah yang itu prioritas terakhir kayaknya. Money and stuff? I'm a mess.
Gue sempet agak down karena ini, tepat di masa-masa gue menuju selesai nyusun tesis, karena to be honest, selama ini gue selalu mikir, "Yaudahlah, gue kan masih sekolah ini, nanti aja dipikirinnya, kelarin dulu ini essay". Dan gitu selesai tesis, lha ya tiba saatnya gue mikirin itu semua, dan itu cukup overwhelming, karena pada saat itu rencana gue udah agak berantakan, karena menyimpang dari plan awal gue, karena ada beberapa irresponsible adjustments yang gue bikin. I almost broke down. There were moments I couldn't think straight, because I was so consumed by this. Honestly, I was such a mess back then.
But this and that happened, gue balik ke Jakarta, ketemu temen-temen lama, dan emang ya, ketemu orang-orang tuh selalu bisa ngasih perspektif baru. Gue lupa kalo kadang apa yang gue liat di media sosial ya cuma apa yang ditunjukkan sang pengguna kepada dunia, dan bukan keseluruhan dari hidupnya. Meanwhile dengan teman-teman gue, apalagi yang udah kenal lama, udah ga ada rahasia di antara kita, ya ternyata hidup ga selurus itu kok. Gue ga sendirian. Semua orang pasti punya moment 'lost' dalam hidupnya. Memang ada temen-temen gue yang udah settle, tapi yaudah, gue dan dia berbeda. We aims for different things in life. How we achieve that depends on us, yang penting ya keep moving.
Ada juga temen gue yang sama YOLOnya kayak gue, I swear to God we are so much alike, dan gue ga ngerasa sendirian lagi. Ga semua hal harus diburu-buru, yang penting tetep aim for continous improvement sih. Gimana cara mencapainya, everybody has their own time, their own pace, their own way, and their own moment. And that's okay. No need to rush everything :)

Lagi Bener: Politik, and How Everybody Seems So Smart

Dulu banget, gue pernah punya account Wordpress yang isinya tentang hal-hal yang gue bahas secara serius dikit (ga sesampah disini), tapi karena kemalesan gue, akhirnya isinya cuma 4 post. Well, tapi itu cukup pencapaian juga sih, 4 post dalam setahun, niat pula -- yang mana Blogspot  aja kadang ga sampe 4 post. Tapi kayaknya ada baiknya gue pusatkan aja semuanya disini, ga usah dipisah-pisah lagi, cuz I am who I am lol. 
Ada tulisan gue tahun 2014, yang kayaknya bakal relevan sama keadaan sekarang, apalagi bentar lagi tahun 2019, aka tahun dimana semua hoax, black campaign, orang sotoy, timeline gontok-gontokan cuma karena mendukung pilihan masing-masing. But, people are people. In the end, I guess they are only defending their choice of mind, which kinda reflects on right or wrong. I mean, who wants to be wrong?
So, here it is:

Pesta demokrasi Indonesia, or should I say, let's-see-who-have-posted-the-most-on-Facebook-here?
Apparently, this election has made my Facebook timeline into some cyber-war between people who thinks they knows everything about politics. Awesome.
Jadi sekarang itu sedang berlangsung pesta demokrasi terbesar Indonesia, atau biasa kita sebut PEMILU (Pemilihan Umum) Presiden Indonesia 2014-2015. Semua orang berlomba-lomba mendukung pilihannya, mengumbar-umbar segala kebaikan calon pilihannya dan segala kejelekan calon lawannya. Holy moly. Menarik sih kadang, saya tidak akan memungkiri, bahwa membaca segala konspirasi yang bertebaran di dunia maya ini membuat kita bertanya-tanya sendiri apakah ini hanya sekedar isu murahan atau fakta. Yah ada sih yang jelas-jelas hanya isu sampah, tapi ada juga beberapa yang membuat saya berpikir ulang. Betulkah ini?
Tapi saya tidak berada disini untuk membahas mana calon lebih baik atau lebih buruk. Atau tidak sok suci dengan membahas panjang kali lebar tapi ujung-ujungnya menggiring pembaca untuk menunjukkan calon ini lebih baik. Tidak salah sih, namanya juga pendukung ya. Tapi saya sudah lelah membaca postingan-postingan semacam itu.
Saya selalu berpikir dari dulu, yang berada di kampus ini adalah orang-orang pintar. Pintar dalam arti yang berargumen dengan dasar dan fakta yang jelas, didasari oleh kebenaran ilmiah, bukan hanya sekedar mengeluarkan isu-isu tidak jelas. Tapi diatas itu semua, saya pikir orang-orang pintar ini juga beretika dalam berpendapat. Siapapun, yang pernah berada di kampus ini, baik yang baru masuk, atau yang seperti saya sekarang, hanya tinggal sisa-sisa di dalam kemahasiswaan ITB sementara kawan-kawan lain sudah mengejar kelulusan, atau bahkan mereka-mereka yang sudah berumur. Tapi tidak. Dan saya, betul-betul bingung. We are smart people, and we will forever be, otherwise we wouldn't be here. Namun hanya sekedar berpendapat dengan "pintar" dan beretika pun entah kenapa menjadi hal yang sangat langka disini. Ya saya percaya masih ada orang-orang seperti itu, tapi entah kenapa banyak orang, orang-orang yang saya kira pintar, masih mengeluarkan isu-isu jelas tidak berdasar, yang entah sumbernya dari orang macam apa. Saya pikir proses pendidikan kita di kampus ini mengajarkan kita berpikir sebagai seorang akademis, mengutamakan kebenaran sebagai fondasinya.
Seorang teman bilang, kita seperti ini karena tanpa kita sadari kita masih menganut paham devide et impera yang diterapkan Belanda semasa jaman penjajahan. Mungkin saja, mungkin pemahaman itu tanpa kita sadari kita pelajari dari orang tua kita, dimana mereka pelajari dari kakek nenek kita, dan terus menurun. Tapi saya sendiri lebih sepakat bahwa ini terkait dengan bagaimana manusia menerima informasi dan memilahnya. Mereka yang tidak terdidik, mereka yang tidak belajar, memiliki kemampuan yang lebih rendah dari kita untuk mencerna informasi yang datang. dan informasi-informasi tidak berdasar namun terlihat juicy itu yang paling mudah diterima masyarakat. Lagipula, itu terlihat sangat mudah di saat-saat seperti ini. Ingin calon pilihan Anda menang? Jatuhkan lawannya! Itu taktik standar, tapi memang seperti itu jalannya. Dan apalagi yang lebih baik untuk menjatuhkan lawan dibandingkan dengan menyebar keburukan-keburukan? Tapi mereka yang pintar tahu bagaimana memilah informasi, bagaimana membedakan mana yang benar dan yang salah, mana yang hanya sekedar "no offense, bukan black campaign, hanya sekadar share" dan mana yang betul-betul bukan black campaign.
Sesungguhnya 100 kebaikan akan terlupakan, namun 1 keburukan akan diingat selamanya. - (modifikasi dari entah mana sumbernya)
Sesungguhnya masih banyak cara-cara untuk menjatuhkan lawan. Banyak cara-cara yang akan dipilih oleh mereka yang pintar untuk menjatuhkan lawannya. Dengan apa? Dengan membuktikan bahwa dirinya lebih hebat. Kenapa seseorang bisa menjadi juara 1? Karena mereka bisa membuktikan dirinya lebih hebat dari si juara 2, bukan hanya duduk diam mengumbar keburukan si juara 2. Masih banyak cara berdiskusi, dengan menggunakan fakta-fakta ilmiah, untuk menunjukkan calon pilihan Anda memang lebih hebat dan pantas dipilih. Tidak ada yang salah dengan cara seperti itu.
Jadi, apakah Anda termasuk orang-orang pintar? Atau hanya ingin terlihat pintar?
Friday, 13 October 2017

Running Away


Running away does not mean you are weak.
Running away means you acknowledge the sadness and pain, and you are not as strong as you thought you were.
Running away means you are trying to find help.
Running away means you choose not to wallow yourself in the hole of despair.
Sometimes, running away means saving yourself.